Usman Bin Affan yang mempunyai nama asli Usman bin Affan bin Abul As bin Umayyah bin Abdu Syams merupakan kholifah ketiga yang menggantikan kepemimpinan Umar Bin Khattab.Utsman dilahirkan di mekkah pada tahun 573 masehi bertepatan dengan tahun ke enam dari kelahiran nabi saw. . Usman bin Affan berasal dari kabilah Bani Umayyah. Pada masa itu, Usman bin Affan menjalankan kafilah dagang bersama kerabatnya dari Bani Umayyah.
Utsman adalah saudagar sukses yang berlimpah kekayaan harta. Namun, meski demikian beliau dikenal sebagai sosok yang rendah hati, pemalu, dan dermawan sehingga beliau begitu dihormati oleh masyarakat di sekelilingnya. Ketika itu ia sudah bersahabat dekat dengan Abu Bakar as-siddiq. Sebagai sesama pedagang, mereka sering berhubungan dalam menjalankan usahanya.
B. Proses Pemilihan
Menjelang
wafatnya Umar bin Khattab, beliau menunjuk 6 orang sahabatnya untuk
dicalonkan sebagai pengganti. Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin
Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf,
dan Thalhah bin Ubaidillah. Keenam orang tersebut disebut sebagai Ahlul Halli wal Aqdi.
Alasan
Umar menunjuk keenam orang tersebut karena ia merasa tidak sebaik Abu
Bakar dalam menunjuk penggantinya, juga tidak sebaik Rasulullah SAW
untuk membiarkan para sahabat memilih pengganti. Maka diambillah jalan
tengah dengan membentuk tim formatur untuk bermusyawarah menentukan
pengganti dirinya.
Karena kelompok tersebut beranggotakan
6 orang, maka untuk mencegah terjadinya suara yang sama ketika diadakan
voting, dimasukkanlah Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khattab.
Abdullah bin Umar hanya berhak memilih, namun tak berhak untuk dipilih
sebagai khalifah. Dari hasil voting, terpilihlah Utsman bin Affan
sebagai khalifah selanjutnya. Ia dipilih pada bulan Dzulhidzah tahun 23 H
dan dilantik pada awal Muharram 24 H.
C. Lama MemerintahSecara umum, masa pemerintahan Usman bin Affan meliputi dua periode yang masing-masing berlangsung selama enam tahun. Periode enam tahun pertama ditandai berbagai keberhasilan dan kejayaan. Periode enam tahun kedua ditandai oleh perpecahan, pergolakan, dan pemberontakan dalam negeri. Jadi, keseluruhan masa kepemimpinannya adalah 12 tahun.
D. Gaya Kepemimpinan
Utsman bin affan dikenal sebagai seorang pemimpin yang familier dan humanis. Namun gaya kepimimpinan yang familier berdampak kurang baik, yaitu munculnya nepotisme dalam pemerintahan Ustman, sebab Utsman kemudian banyak mengangkat pejabat-pejabat Negara dari kerabatnya sendiri dan kurang mengkomodir pejabat di luar kerabat beliau. Inilah yang kemudian menyebabkan munculnya kerusuhan dan pergolakan pemerintahannya.
Khalifah Utsman bin Affan terkenal dermawan. Sifat-sifat kedermawanan yang dimiliki Utsman sebelum menjadi khalifah masih terbawa ketika dia menjadi khalifah. Ia juga profesional dalam mengangkat wali-wali negeri untuk memperkuat wilayah kekuasaannya melalui personal yang telah jelas dikenal baik karakteristiknya, hal ini mengingat wilayah kekhilafahan pada masa Khalifah Utsman bin Affan semakin luas. Demikian juga tanggungjawab dakwah dimasing-masing wilayah tersebut.
E. Jasa / Usaha-usaha yang telah dilakukan
- Banyak melakukan perluasan daerah
- Membentuk angkatan laut
- Pelaksanaan Baitul Mal
- Perpajakan
- Perkembangan Ilmu Pengetahuan (PIP)
Dari
dimensi sosial budaya, ilmu pengetahuan berkembang dengan baik.
Pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan erat kaitannya dengan
perluasan wilayah Islam.
Dengan adanya perluasan wilayah, maka banyak para sahabat yang
mendatangi wilayah tersebut dengan tujuan mengajarkan agama Islam.
Selain itu, adanya pertukaran pemikiran antara penduduk asli dengan para
sahabat juga menjadikan ilmu pengetahuan berkembang dengan baik. Dari
segi sosial budaya, Utsman juga membangun mahkamah peradilan. Hal ini
merupakan sebuah terobosan, karena sebelumnya peradilan dilakukan di
mesjid. Utsman juga melakukan penyeragaman bacaan Al Qur’an juga
perluasan Mesjid Haram dan Mesjid Nabawi.
- Penyeragaman Bacaan Al-Qur'an
Penyeragaman
bacaan dilakukan karena pada masa Rasulullah Saw, Beliau memberikan
kelonggaran kepada kabilah-kabilah Arab untuk membaca dan menghafalkan
Al Qur’an menurut lahjah (dialek) masing-masing.
Seiring bertambahnya wilayah Islam, dan banyaknya bangsa-bangsa yang
memeluk agama Islam, pembacaan pun menjadi semakin bervariasi.Akhirnya sahabat Huzaifah bin Yaman mengusulkan kepada Utsman untuk menyeragamkan bacaan. Utsman
pun lalu membentuk panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit untuk
menyalin mushaf yang disimpan oleh Hafsah dan menyeragamkan bacaan
Qur’an. Perluasan Mesjid Haram dan Mesjid Nabawi sendiri dilakukan
karena semakin bertambah banyaknya umat muslim yang melaksanakan haji
setiap tahunnya.
F. Akhir Periode
Para
pencatat sejarah membagi masa pemerintahan Utsman menjadi dua periode,
enam tahun pertama merupakan masa pemerintahan yang baik dan enam tahun
terakhir adalah merupakan masa pemerintahan yang buruk.
Pada akhir pemerintahan Utsman, terjadi banyak konflik, seperti tuduhan
nepotisme dan tuduhan pemborosan uang Negara. Tuduhan pemborosan uang
Negara karena Utsman dianggap terlalu boros mengambil uang baitul maal
untuk diberikan kepada kerabatnya, dan tuduhan nepotisme karena Utsman
dianggap mengangkat pejabat-pejabat yang merupakan kerabatnya. Padahal,
tuduhan ini terbukti tidak benar karena tidak semuanya pejabat yang
diangkat merupakan kerabatnya. Selain itu, meski kerabatnya sendiri,
jika pejabat tersebut melakukan kesalahan, maka Utsman tidak segan-segan
untuk menghukum dan memecatnya.
Sayangnya,
tuduhan nepotisme itu terlalu kuat. Sehingga banyak yang beranggapan
bahwa Utsman melakukan nepotisme. Hal ini diperkuat dengan adanya
golongan Syiah, yaitu golongan yang sangat fanatik terhadap Ali dan
berharap Ali yang menjadi khalifah, bukan Utsman. Fitnah yang terus
melanda Utsman inilah yang memicu kekacauan dan akhirnya menyebabkan
Utsman terbunuh di rumahnya setelah dimasuki oleh sekelompok orang yang
berdemonstrasi di depan rumahnya. Setelah meninggalnya Utsman, Ali lalu
ditunjuk menjadi penggantinya untuk mencegah kekacauan yang lebih
lanjut.
G. Nilai Karakter yang dapat diambil
- Jadilah pemimpin yang humanis, akrab dengan semua, tidak pandang hulu
- Adil dalam memilih pejabat
- Dermawan
Sumber-sumber : http://khairul-anas.blogspot.com
http://irwan-cahyadi.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar